Wednesday, September 17, 2008

Taxi...oh...Taxi, Tarifmu Sungguh-sungguh...

So, yesterday morning, I had to take a taxi to go to the office. Duh, lagi banyak duit lo? Sebenarnya biasa-biasa aja sih, maklum, telat. I have waiting like almost an hour, dari jam 08.30, dan sampai di jam 09.20, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari si PPD 08, jurusan Pulo Gadung - Blok M. Bersama-sama dengan teman gue, si Ms. UC, kita naik taxi "Rosalinda". Iya, namanya cukup mentereng dan sedikit norak, namanya sangat telenovela sekali, tapi karena taxi Express dan atau Putra tidak menunjukkan keberadaanya, terpaksa deh. Lagipula, tarif lama dan bukan tarif BlueBird yang baru saja naik ataupun tarif bawah, jadi, LET'S GO! TELAT NIH!

Jadi, sebenarnya, gue mau ngomongin apa sih? Hehehe, ya, gue mau ngomongin soal taxi dan tarifnya itu, yang kadang-kadang bisa mahal seamit-amit.

OK, bagi kita, Jakartarian *terms asal-asalan gue buat orang Jakarta gitu, ASAL DEH!*, taxi merupakan salah satu armada transportasi yang cukup penting, selain bus ataupun bajaj, ojeg, bemo, bahkan delman *heh? apaan sih???*. Lo bisa kemana saja dengan menggunakan taxi, asal punya duit cukup banyak untuk membayar tarifnya, apalagi yang tarif baru, cukup bisa membuat lo bangkrut. Kalau buat gue sih, naik taxi itu adalah option terakhir, karena honestly, money is a big problem for me, and I can't always have the money to take a taxi, un-afforadble lah ya, so I have to take a bus.

Nah, dari sekian banyak taxi, gue lebih memilih untuk naik Express ataupun Transcab, selain taxinya bagus, bersih, nyaman, (bahkan untuk Transcab ada tv-nya!), tarifnya masih cukup di kantong, tarif lama (tapi sudah berubah juga, jadi tarif bawah). Kalau untuk Blue Bird atau Gamya, itu gue gunakan kalau sudah kepepet sekali, kalau harus pulang malam dan lebih mencari yang aman, dengan konsekuensi harus membayar tarif lebih mahal daripada taxi-taxi yang lain.

So, iseng-iseng, gue browsing, bagaimana sih cara menghitung tarif taxi itu? Iseng banget sih, tapi gue penasaran juga. Ketika gue klik di google, keluar satu link, fandhiee.multiply.com/journal/item/1469, si fandhiee ini menjelaskan *ok, not exactly him, but the taxi driver explained it to him* bagaimana cara menghitung tarif taxi itu. (thanks man!)

Jadi, di meteran taxi itu *mesin argonya* ada 3 kombinasi.
Angka yang besar menunjukan tarif yang harus dibayar. Angka kedua di bagian sudut kanan, titik yang berkedip-kedip itu, menunjukkan petunjuk kilometer yang ditempuh. Sedangkan angka ketiga, di sudut kiri, itu merupakan penujuk waktu (timer) yang hanya bergerak ketika kendaraan dalam keadaan berhenti, misalnya di lampu merah, atau sedang dalam keadaan macet total ataupun ketika si penumpang sedang singgah di ATM untuk mengambil uang *buat bayar ongkos gitu, hahahaha!!!*

Cara menghitung:

Misalnya jarak tempuh yang ditunjukkan penunjuk KM = 10 km

Artinya yang harus kita bayar untuk tarif lama/bawah:

Rp. 5.000,- (1 km pertama) + Rp. 1.800,- x 9 km = ... (Hitung sendiri)

Sedangkan untuk tarif baru :

Rp. 6.000,- (1 km pertama) + Rp. 2.500,- x 9 km = ... (Hitung sendiri juga)

Ini dengan catatan taksi jalan tanpa berhenti.

Kalau taxi-nya berhenti, timer akan berjalan dan untuk tarif baru ada penambahan Rp. 250 per menit, sedangkan untuk tarif lama, sayang sekali, si fandhiee belum sempat menanyakan karena sudah mencapai tempat tujuannya. Tapi kira-kira, ini sudah bisa menggambarkan, bagaimana sih caranya menghitung tarif taxi.

One more thing, seaman-amannya naik taxi, please selalu berhati-hati, karena rawan sekali penodongan di dalam taxi. Waspadalah! Waspadalah!!! 

So, Mr. E is hoping that the info that he give can be useful. *crossing fingers*


xoxo,
E.

1 comment:

PetiteNat said...

mbak ros aja takut naek taxi sendirian son.. hehe.. nganggur bgt ya sampe tarif taxi ada perhitungannya segala haha