Tuesday, October 28, 2008

Missing you, Dad...

So, last 18th of October, genap 6 bulan sejak my lovely Dad passed away. Tidak terasa, 6 bulan beliau meninggalkan gue, my mum, my younger brother and my younger sister untuk pergi menghadap Bapa di Surga. Selama masa itu *aneh-tapi-nyata-deh*, gue tidak merasakan kosong, atau hampa, atau sedih yang menusuk-nusuk, nangis meraung-raung karena kehilangan orang yang kita sayangi. Bukannya gue merasa mati-rasa atau cuek, tidak perduli, tapi somehow-somewhat, gue tidak merasa bahwa Papi itu benar-benar sudah tidak ada, tapi masih ada dan sedang berkeliaran di sekitar rumah.

Setiap kali gue pulang dari kantor, gue selalu mengucapkan selamat sore atau selamat malam dan langsung menuju ke kamar tidur tempat Mami & Papi tidur, just to say hi-halo-howareyouguys, dan selalu melihat kursi-malas berwarna biru yang biasanya dipakai beliau untuk duduk, somehow-somewhat I know that my Dad is gone, tapi yang gue rasakan dan yang gue bilang ke diri gue sendiri adalah "Oohh, si Papi lagi ke kamar mandi, nanti juga balik lagi." *sebuah kebiasaan yang selalu beliau lakukan, dan biasanya membutuhkan waktu sedikit lama*; atau "Oooh, si Papi lagi ke rumah si Oom X atau Oom Y."; atau "Ooh, si Papi lagi masang sesuatu, memperbaiki sesuatu, lagi ngobrol sama Mami, atau lagi ngapain aja."

Bukan itu saja, di pagi hari, kalau pintu kamar depan terbuka, gue selalu melihat kursi malas biru itu kosong, seperti biasa, "Ooh, si Papi lagi ke kamar mandi tuh, lama bener, ga balik-balik, PAPIIII, cepetan! Mo pergi neeehhh!!!!". Begitu terus, setiap hari. He's gone, but it's like his essence stays with us. Setiap benda yang ada di rumah, apa-aja, setiap kegiatan yang gue sekeluarga lakukan, selalu mengingatkan gue pada Papi, dan it feels different without him. Gue suka merasa, tiba-tiba Papi muncul di pintu kamar dan bilang, "Heh, ngapain di situ, bengong aja, cariin film sana!" atau "E, pijitin kaki Papi donk." *yang kadang-kadang suka gue tolak mentah-mentah dan kalau mengingat itu, kok rasanya menyesal sekali ya?*

Gue selalu melihat Papi sebagai itu gunung batu, benteng besar, kapal pesiar, pesawat hercules, pokoknya segala sesuatu yang besar-besar, yang gagah, yang selalu menjadi pelindung bagi gue sekeluarga, tapi sewaktu melihat dia meninggal, Papi tidak terlihat seperti apa yang gue bayangkan, semua bayangan gue hancur berantakan sewaktu melihat Papi pada saat-saat terakhirnya, terlihat sangat kurus, membungkuk, ringkih, kesakitan dan terlihat luar-biasa lelah. Gue sedih kalau mengingat hal itu, why did he have get through all of that? Ditambah lagi, sewaktu saat-saat terakhirnya, gue bukan menjadi anak yang berbakti, bahkan jauh dari itu, I was being a F*UCKIN' spoiled brat, anak paling b*ngs*t sedunia. Gue menjadi cuek dan lebih sering marah-marah kalau beliau minta dipijit-pijit kakinya. Gue rasanya jahat sekali waktu itu, dan gue tidak merasa bersalah. Itu yang membuat gue sakit hati pada diri gue sendiri. I was being a jerk & not feeling a thing, not a single guilt.

Gue mau menemani Papi pada saat itu, tapi melihat beliau kesakitan dan tidak berdaya itu membuat hati gue hancur berantakan, gue tidak tega untuk melihat beliau, gue tidak bisa berada di satu ruangan yang sama dengan beliau. Gue marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Gue sedih, tapi tidak bisa menangis dan tidak boleh menangis, "Anak pertama harus kuat!" I'm suffocating and not a single person knows how I feel, cause maybe I'm letting people in. Gue merasa sangat kesepian.

Tapi ada yang berbisik di telinga gue, "Everything is going to be fine, he's going to be fine, God is going to take care your father and you too, believe that, ok?" Selalu saja ada yang berbicara seperti itu dan selalu bisa membuat gue merasa tenang. Gue percaya Papi sudah tenang di atas sana, gue percaya ada yang menjaga beliau disana. 

Mr. E is being mushy-mushy today, mata berkaca-kaca, leher tercekat, pengen nangis, tapi malu, lagi di kantor. I'm sorry Dad, I can't be the person you wanted me to be, and I'm sorry for all the things I have said or do, please forgive me.

I miss you and I love Dad, always have and always will.


xoxo,
E.

4 comments:

miss Dee said...

argh. meler dah gue.. g jga suka ngabur gitu kalo diminta pijitin ama nyokap uhuhuhu.... mader... sini yiu yiu aku pijitin madeerrr...uhuuhuh..aduh jadi cedih deh *meper aer mata*

Mr. E. said...

hahahahahahhah!!!
dasar lo!

Bex said...

zrooooooot.. *buang ingus*
*patting mr. e in the shoulder*
now i know :) payah lo bikin nangis tgh mlm.
hang on there. dont we all need better days in life? kkk.. :P

PetiteNat said...

zon.. I know you will always miss your dad.. but u need to move on! u need to let go that guilty feeling inside urs.. (trust me i've been there!)
i know it's not as easy as saying it.. but it's not your fault! u've been a good son for him, and i know that your father prouds of what u've become. and don't ever regret everything that you think u haven't done enought for him.. always believe that He's happy now.. Regreting is not a good way of remembering him.. there's no use of regreting now.. all you have to do is move on and just good loving memory remain...
be tough.. be happy.. :) GBU