Monday, December 28, 2009

Kalo-Memang-Udah-Ga-Niat, Ga-Usah-Kerja-Sekalian!!!


*YM status for the day....*

Hari ini dimulai seperti hari Senin yang biasa.

Bangun, mandi, mikir-mo-pake-baju-apa, sarapan, menabung-di-bank-toilet, lalu berangkat dengan busway, sampai kantor jam 09.00, telat lagi gara-gara daerah Senen macet total. Sampai di kantor, taruh tas, buka jam tangan, ke toilet, gargling, isi air dalam gelas, menyalakan laptop, buka e-mail kantor dan memulai aktifitas kerja gue.

This is my my typical Monday morning at the office, mungkin minus telatnya kali ya....

Tapi, segala sesuatu yang normal pasti akan ada ke-abnormal-an-nya. Iya, kantor gue mah kalo adem-ayem-ga-ada-kasus-apa-apa mah dijamin aneh. Nah, diantara ritual Senin pagi gue tersebut, kira-kira jam 08.00, gue dapat SMS dari salah satu kolega gue yang mengatakan bahwa dia hari ini tidak masuk karena sakit dan minta nomor telepon salah satu direksi gue untuk menginformasikan berita tersebut. Secara gue masih di jalan & tidak memiliki nomor teleponnya, gue bilang bahwa, nanti setelah gue sampai, gue akan tanyakan & informasikan kepada dia.

Lalu, jam 08.40-ish, dia telepon. Gue masih di halte Harmoni. Busway lama. Kolega gue bertanya lagi soal nomor telepon direksi. Yah, kan gue bilang tadi, gue belum sampai, nanti kalau sudah sampai, gue informasikan. Nada gue pada saat bicara tetap sopan, tapi mulai terdengar bitchy & annoyed.

Saat itu, gue kesal, entah kenapa, mungkin kurang tidur, jadi gue agak-agak cranky & merasa sangat terganggu. Saat itulah gue langsung punya feeling bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjang & menyebalkan.

Feeling gue jadi kenyataan....

Pekerjaan gue hari ini dimulai dari content review untuk layanan kuis SMS yang gue adakan. Secara sekarang orang Bus-Dev gue sudah diujung-ujung masa resign & kebetulan mengambil cuti, jadi pekerjaan tersebut gue yang take-over untuk sementara waktu.

Review content cukup simple, tapi agak menyita waktu & dibutuhkan ketelitian. Gue harus fact-checking setiap pertanyaan-pertanyaan, serta memperbaiki kata-kata & tanda bacanya.

Pada saat yang sama, gue juga harus mengkolektif data-data subcriber kuis tersebut & mencari 10 orang dengan poin tertinggi & diundi untuk mendapatkan hadiah mingguan. Lalu, pada saat yang bersamaan itu juga, gue harus mengirimkan email kepada salah satu operator mengenai pengiriman konten yang dimana email yang gue kirimkan tidak ditanggapi dan IM gue juga sepertinya diacuhkan. Orang sibuk sih, jadi gue memaklumi.

Yah, memang, load pekerjaan gue tidak terlalu banyak dan gue masih sanggup menghandle sendiri, walaupun cukup sibuk, tapi gue dengan senang hati mengerjakan. Lalu, tiba-tiba, ada sesuatu yang benar-benar membuat gue KESAL-bahkan-MARAH, yaitu masalah pengiriman parsel untuk beberapa petinggi-petinggi operator telekomunikasi, rupanya parsel untuk Natal tersebut belum dikirimkan sama sekali.

SINTING!
NATAL KAN SUDAH LEWAT & KITA BELUM MENGIRIMKAN PARSEL-PARSEL TERSEBUT?

Pekerjaan siapa ini? SANG KOLEGA YANG TIDAK MASUK HARI INI.

Jadi, beberapa waktu sebelum Natal, sang kolega sudah minta tolong gue untuk print kartu Natal, tapi secara gue agak sibuk, gue bilang, ga-usah, lo cap aja, tanda tangan, kirim. Gue pikir dia sudah mengerjakannya, rupanya BELUM-SAMA-SEKALI.

Kartu-kartu natal itu cuma teronggok begitu saja. Parsel pun tidak diurus. BAGUS. Sang kolega kabur, entah kemana tanpa menyelesaikan pekerjaannya.

Serius, ketika ditanyakan mengenai pengiriman parsel tersebut, kepadasiapa saja yang mau diberikan, jujur, gue tidak tahu apa-apa, gue memang tidak di-update apa-apa. Karena tidak ada orang lain, jadilah gue harus mencari list penerima parsel tersebut.

Gue coba tanyakan kepada sang kolega, tapi handphone & YM-nya mati. Sama sekali tidak bisa dihubungi, padahal tadi masih bisa, sekarang dimatikan total. Mulai agak-panik-mode gue. Setelah mengubek-ngubek, bertanya sana-sini, akhirnya gue bisa mendapatkan alamat beserta nomor telepon masing-masing penerima. Gue cap setiap kartu natal, lampirkan kartu nama gue, tempel alamat penerimanya & dibawa langsung kepada bagian logistik gue. Besok diharapkan sudah bisa dikirimkan, walaupun terlambat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Phuew, Capek juga gue naik-turun tangga. Ribet. Ingat, pada saat yang bersamaan, pekerjaan gue yang seharusnya gue kerjakan saat itu malah jadi terbengkalai & gue akhirnya harus kembali mengerjakan agar bisa dapat approval & lewat QC hari ini juga.

OK, gue benar-benar marah, sampai memukul pintu, menggebrak meja & mengeluarkan beberapa kata-kata yang cukup kasar. SIAL. Gue jadi sering mengerjakan pekerjaan-pekerjaan orang lain, yang bisa dibilang "sampah-sampah" mereka. Karena tidak dikerjakan secara maksimal atau tidak selesai, gue selalu didaulat untuk menyelesaikannya. Memang, gue bisa kerjakan sampai selesai, itu merupakan keharusan, tapi hasilnya mungkin tidak begitu sempurna secara gue istilahnya "dilemparkan" pekerjaan orang.

Gue marah karena ini sudah kesekian kalinya sang kolega itu tidak mengerjakan pekerjaan dengan baik, selalu setengah-setengah bahkan tidak selesai. MAUNYA APA SIH?

SANGAT TIDAK PROFESIONAL!!

Lalu, ketika gue dilemparkan pekerjaan tersebut, dan hasilnya tidak maksimal, yang kena semprot sudah pasti gue lah dan sang kolega tidak tahu-menahu soal pekerjaan tersebut. Yang dilakukan hanya bertanya-tanya soal ini itu, suruh sana suruh sini, tapi tidak pernah mau benar-benar tahu apa yang dikerjakan.

Serius, sang kolega, kalau memang sudah tidak punya niat untuk bekerja, ya, silahkan resign, berhenti, tidak usah masuk kerja lagi. Atau kalau masih berniat, be professional, dahulukan pekerjaan yang sekarang dijalankan dan bukan malah fokus kepada hal-hal lainnya. Gue tahu sang kolega ini punya segudang aktifitas di luar kantor. Silahkan, gue tidak akan menghalang-halangi, tapi KERJAKAN PEKERJAAN YANG UTAMA SAMPAI BENAR-BENAR SELESAI, tidak setengah-setengah, TAPI SAMPAI SELESAI. Jangan sering meninggalkan pekerjaan dan berharap orang lain akan mengerjakannya.

Gue akui, gue juga tidak sempurna, pekerjaan gue sering kali berantakan, gue akui itu dan gue tidak akan mencari sebuah pengecualian apapun. Gue cuma bisa mengakui kesalahan-kesalahan gue dan banyak belajar, itu saja.

Thank YOU colleague, for making my day so beautiful.
THANK EFFIN' YOU.

xoxo,

8 comments:

Arema said...

what a bitch! kalo gw sih bakal ngamuk2 besar langsung ke mukanya tuh orang

Ivana said...

oalah begitu toh kejadiannya..yang sabar ya pakk :)

Valentinus Rama Kurniangga said...

ohh ada yg mau resign. ahahahaha
yang sabar Sooon

Ling said...

Edi.. Jia You!! Kamu pasti bisa!! ^^
Semoga si kolega membaca dan bisa mengambil keputusan terbaik, yang tidak menyusahkan pihak manapun!

once again, JIA YOU n GOOD LUCK!!

ego said...

i'd rather say he is a KOLERA, instead of KOLEGA!!!.. penyakit tuh orang!!!

welliamlauw said...

In a way you have to think as well that probably one of the reasons why your colleagues are very un-professional like you said was because they have you to finish their work.

Been there and done that, since I am annoyed with un-perfection in work I always helped my ex-colleague with her duties but with time goes by she became more dependable towards me and expects me to do all of her job.

My suggestion, next time you should draw a clear line one what's ur job and what's ur colleague's job. Try to ignore....ignorance is a bliss

Gogo Caroselle said...

astaga, ga bertanggung jawab banget...
leave.your.job.
asap.
kasian kamuu...

mutia said...

waaah kita senasib Mr. E T_T
ada juga tuh orang kantor gw yang begitu, dan selalu gw yang kena marah karena kerjaan dia yang ga beres...
perasaan ya tiap gw bawa benda2 berat pengen gw timpuk ke kepalanya *anarkis* hehehe
mari semangaaaat menghadapi bedebah2 itu!!!